Mailisda, Fitria (2012) Majas dalam Kumpulan Sajak Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia Karya Taufiq Ismail. Bachelor/Skripsi thesis, Universitas Negeri Padang.
final_B1_1_FITRIA_MAILISDA_04507_3312_2012.pdf
Download (300kB)
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) majas yang terdapat
dalam kumpulan sajak Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail, (2)
fungsi majas-majas itu dalam mendukung tema sajak pada Malu (Aku) Jadi Orang
Indonesia, dan (3) gaya kepenyairan Taufiq Ismail dalam kumpulan sajak Malu
(Aku) Jadi Orang Indonesia.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan
metode deskriptif, yaitu penelitian dengan prosedur penelitian yang menghasilkan
data deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku
yang diamati. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menemukan dan menguji
kebenaran berdasarkan fakta dan data. Metode deskriptif bertujuan untuk
mendeskripsikan atau menjelaskan suatu hal, peristiwa yang seperti adanya.
Untuk menganalisis data dalam kumpulan sajak Malu (Aku) Jadi Orang
Indonesia karya Taufiq Ismail, dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut: (1) memilih dan menentukan sajak-sajak yang akan dianalisis, (2)
mengidentifikasikan ragam majas yang terdapat pada beberapa sajak dalam
kumpulan sajak Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail yang telah
dipilih, (3) mengklasifikasikan majas yang telah diidentifikasi berdasarkan teori
yang digunakan, (4) mengidentifikasikan gaya kepenyairan Taufik Ismail dalam
karyanya kumpulan sajak Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, (5)
menginterprestasikan data, (6) menarik kesimpulan dan merumuskan saran.
Berdasarkan hasil pendeskripsian data, dapat disimpulkan bahwa dalam
kumpulan sajak Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail ditemukan
28 ragam majas dalam 211 kutipan sajak. Majas ini terdiri atas dua kelompok
besar, yaitu majas perbandingan dan majas nonperbandingan. Majas perbandingan
meliputi majas alegori, antisipasi, metafora, personifikasi, dan simile. Majas
nonperbandingan juga dibedakan lagi menjadi majas pertentangan, pertautan, dan
perulangan. Majas Pertentangan meliputi majas ironi, sarkasme, litotes, satire,
sinisme, hiperbola, oksimoron, paradoks, inversi dan inuendo. Majas pertautan
meliputi majas antonomasia, metonimia, alusi, sinekdoke (pars pro toto dan totem
pro parte), asindeton, dan erotesis. Majas perulangan meliputi majas anafora,
epistrofa, asonansi, anadiplosis, aliterasi, dan kiasmus.Taufiq Ismail cenderung
menggunakan gaya pribadi dalam menghasilkan sebuah sajak. Maksudnya,
penikmat sastra dapat membedakan antara sajak Taufiq Ismail dengan penyair
lainnya. Hal ini dapat dilihat dari gayanya seperti bercerita (naratif) untuk
meluapkan gelora perasaannya ke dalam sebuah sajak, sajaknya berfungsi sabagai
penyaluran aspirasi rakyat Indonesia terhadap kebijakan Orde Baru, berisikan
kritik terhadap negeri yang carut-marut, mengungkap kesaksian sejarah, dan
cenderung bergaya alegori, ironi, dan satire.
| Item Type: | Thesis (Bachelor/Skripsi) |
|---|---|
| Contributors: | Contribution Contributors Email Thesis advisor Juita, Novia UNSPECIFIED Thesis advisor Tamsin, Andria Catri UNSPECIFIED Corrector Bakhtaruddin, Bakhtaruddin UNSPECIFIED |
| Subjects: | P Language and Literature > P Philology. Linguistics |
| Divisions: | Fakultas Bahasa dan Seni > Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia-S1 |
| Depositing User: | Risna Juita S.IP |
| Date Deposited: | 09 Mar 2026 01:52 |
| Last Modified: | 09 Mar 2026 01:52 |
| URI: | https://repository.unp.ac.id/id/eprint/39162 |
