Osronita, Osronita (2013) Penataan Permukiman terhadap Bahaya Longsor di Kota Padang Panjang. Masters/Tesis thesis, Universitas Negeri Padang.
final_4_OSRONITA_1104184_5276_2013.pdf
Download (2MB)
Abstract
Sumatera Barat adalah salah satu Provinsi yang sering mengalami bencana tanah longsor karena merupakan daerah pegunungan yang berlereng curam dengan rata-rata curah hujan tinggi. Padang Panjang dengan topografi berbukit dan daerah pegunungan dengan sebaran permukiman yang semakin padat seiring dengan penduduk yang cukup padat, oleh sebab itu diperlukan penataan permukiman agar permukiman yang dibangun dapat terhindar dari bahaya longsor. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi, membahas dan menganalisis (1) mengetahui tingkat bahaya longsor Kota Padang Panjang (2) penataan permukiman terhadap bahaya longsor Kota Padang Panjang (3)upaya mitigasi pengembangan permukiman terhadap bahaya longsor. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan metode yang digunakan metode purposive sampling, sehingga secara keruangan dapat dilakukan penataan permukiman dan upaya mitigasi bencana terhadap permukiman yang terdapat pada daerah yang rawan tehadap bahaya longsor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah metode pengharkatan dan pembobotan berdasarkan faktor penyebab atau pemicu longsor antara laian lereng, geologi, tanah, tata air tanah, penggunaan lahan dan curah hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat bahaya longsor kota Padang Panjang termasuk tingkat bahaya longsor sedang, yaitu dapat terjadi longsor dalam jangka waktu tertentu jika terjadi hujan secara terus menerus, yang tersebar pada kelurahan Tanah Hitam, Kampung Manggis, Koto Panjang, Koto katiak, Gantiang, Sigando, Pasar Usang, dan Silaing Bawah. Tiga dari Delapan kelurahan adalah wilayah yang rawan terhadap bahaya longsor apabila terjadi hujan secara terus menerus, dan masing-masing faktor pemicu memiliki jumlah harkat terbanyak. (2) penataan permukiman Kota Padang Panjang terdiri dari Zona A, zona aman dari bahaya longsor yang dapat dioptimalkan untuk permukiman seluas 16,06 Ha atau 0,66%. Zona B, zona kawasan penyangga, tidak diperuntukkan untuk permukiman atau dapat digunakan untuk permukiman secara bersyarat, seluas 909,73 Ha, 32,47%, dan Zona C, zona kawasan lindung 1.352,98 Ha, 48,32%, Tidak diperuntukkan untuk permukiman. (3) upaya mitigasi untuk pengembangan permukiman terhadap bahaya longsor terdiri dari dua bentuk upaya yaitu upaya yang dlakukan oleh pemerintah dan upaya yang dilakukan oleh masyarakat, pembuatan pondasi batu pilin dengan batu kali, tembok penahan dengan lubang aliran air (paluang saluang).
| Item Type: | Thesis (Masters/Tesis) |
|---|---|
| Contributors: | Contribution Contributors Email Thesis advisor Barlian, Eri UNSPECIFIED Corrector Dewata, Indang UNSPECIFIED Corrector Hemon, Dedi UNSPECIFIED Corrector Iskarni, Paus UNSPECIFIED Corrector Fatimah, Siti UNSPECIFIED |
| Uncontrolled Keywords: | PENATAAN PERMUKIMAN, BAHAYALONGSOR |
| Subjects: | G Geography. Anthropology. Recreation > GA Mathematical geography. Cartography G Geography |
| Divisions: | Sekolah Pascasarjana > Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial-S2 |
| Depositing User: | Mutia Farida S.Sos |
| Date Deposited: | 24 Feb 2026 00:45 |
| Last Modified: | 24 Feb 2026 00:45 |
| URI: | https://repository.unp.ac.id/id/eprint/38318 |
