Hubungan Pola Asuh Orang Tua terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI SMAN 1 Sungai Rumbai Kabupaten Dharmasraya

Ikhsanes, Yuvil (2016) Hubungan Pola Asuh Orang Tua terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI SMAN 1 Sungai Rumbai Kabupaten Dharmasraya. Bachelor/Skripsi thesis, Universitas Negeri Padang.

[thumbnail of B1_4_YUVIL_IKHSANES_1201837_5562_2016.pdf] Text
B1_4_YUVIL_IKHSANES_1201837_5562_2016.pdf

Download (4MB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kekhasan yang dimiliki marhata- hata. Marhata- hata adalah salah satu sastra lisan Batak Mandailing yang merupakan warisan budaya nasional yang memiliki nilai- nilai yang berharga dan masih berperan bagi masyarakat Batak Mandailing. Pada setiap acara adat masyarakat Batak Mandailing selalu melaksanakan marhata- hata. Marhata- hata memiliki struktur syair, struktur pertunjukan, lingkungan penceritaan, serta fungsi dan kedudukan tersendiri.Perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi dikhawatirkan akan menyebabkan marhata- hata tidak lagi dikenal oleh generasi muda. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan manggunakan metode deskriptif. Untuk memperoleh data yang akurat, peneliti mewawancarai langsung informan dan melakukan pengamatan pada acara marhata- hata. Banyaknya informan tergantung data yang diperlukan. Informan penelitian ini adalah masyarakat Kenagarian Taruang- taruang yang mengetahui tentang marhata- hata. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan dibantu tape recorder untuk merekam informasi dan format wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Penganalisisan syair dalam marhata- hata pada acara pernikahan di Kenagarian Taruang- taruang Kecamatan Rao Kabupaten Pasaman didasarkan pada struktur fisik dan struktur batin.Pendahuluan pada Marhata- hata ketika mangan sipulut mengucapkan salam, syukur kepada Allah SWT dan selawat kepada Nabi Muhammad SAW, mengucapkan kata- kata penghormatan kapada raja dan seluruh hadirin, serta meminta izin raja. Bagian kedua adalah isi yaitu, menceritakan kisah dari kedua mempelai mulai dari awal berjumpa hingga sampai kepada acara pernikahan, meminta kepada seluruh hadirin agar dapat membantu dalam malaksanakan acara pernikahan tersebut. Penutup adalah salam. Marhata- hata pada acara maupa- upa diawali dengan salam, permisi kepada raja untuk memulai upa- upa, mengucapkan syukur kepada Allah SWT dan selawat kepada Nabi Muhammad SAW, Mengucapkan terima kasih kepada seluruh hadirin. Isi dari marhata- hata pada acara maupa- upa adalah memangil atau mendoakan agar jiwa kembali ke badan untuk mendapatkan kesehatan, keselamatan, dan reski yang melimpah. Penutup dengan mengucapkan horas, horas, horas, oleh seluruh hadirin dan salam. Berdasarkan struktur fisik marhata- hata terdapat kata- kata yang dipilih sedemikian rupa sehingga menghasilkan bunyi yang enak untuk didengar.Pemilihan terhadap kata yang menyebabkan daya bayang terhadap sesuatu hal juga ditamukan dalam syair marhata- hata, yaitu citraan pendengaran, citraan gerak, dan citraan penglihatan. Dalam syair marhata- hata juga ditemukan kata konkret, yaitu kata- kata yang dapat membangkitkan citraan dan mengarah kepada arti yang menyeluruh. Versifikasi yang terdapat pada syair marhata- hata antara lain asonansi / a/ dan / u/, aliterasi / h/, / m/, / n/, / s/, dan / k/, epifora “ nia, tolu, lai, dadaboru”, efoni / a/ dan / m/, / a/ dan / s/, / a/ dan / n/. Struktur batin pada syair marhata- hata ditemukan tema, perasaan, nada dan suasana, amanat. Tema marhata- hata pada waktu mangan sipulut adalah menyampaiakan sebab terjadinya acara pernikahan, kapan dilaksanakan acara pernikahan, kapan dilaksanakan acara pernikahan, dan bagaimana cara pelaksanaannya sedangkan pada waktu maupa- upa temanya adalah memanggil jiwa kembali, agar mendapat kesehatan, keselamatan, dan reski yang melimpah. Perasaan penyair dalam sikapnya menghadapi objek tertentu yang diekspresikan ke dalam syair marhata- hata, yaitu rasa harap, rasa sayang dan cinta. Nada yang muncul pada syair marhata- hata adalah nada menasehati yang menimbulkan suasana semangat dan nada bercerita yang menimbulkan suasana yang ceria. Ada beberapa amanat yang terkandung dalam syair marhata- hata. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dalam marhata- hata pada acara pernikahan di Kenagarian Taruang- taruang Kecamatan Rao Kabupaten Pasaman ditemukan struktur pertunjukan. Struktur pertunjukan marhata- hata ini adalah susunan acara dari awal sampai akhir. Susunan tersebut sesuai dengan aturan dan tata cara yang berlaku dan disetujui oleh hatobangon atau raja di daerah tersebut. Mulai dari pokat sabagas sampai acara maupa- upa selesai. Lingkungan penceritaan terdiri atas sejarah pertunjukan, pemain, keterlibatan khalayak, suasana pertunjukan, dan sarana pertunjukan. Berdasarkan informasi dari informan, marhata- hata berasal dari daerah Utara Sumatera oleh Ompung Tana Robion ( Nenek moyang kita). Pemain marhata- hata biasanya orang yang sudah berusia diatas tiga puluh tahun atau orang yang dipercaya mampu melaksanakan marhata- hata. Khalayak atau orang yang secara langsung menyaksikan acara marhata- hata akan memberi semangat kepada pemain. Disaat acara berlangsung penonton hanya berperan pasif, pada akhir maupa- upa barulah penonton terlibat dengan mengucapkan horas, horas, horas. Suasana dalam pertunjukan marhata- hata memperlihatkan hubungan yang dekat antara keluarga yang mengadakan acara dengan raja, imam khatib, cerdik pandai, hatobangon, serta seluruh masyarakat. Sarana pertunjukan yang dibutuhkan dalam melaksanakan acara marhata- hata adalah pakaian adat untuk raja berwarna kuning, kupiah hitam, dan sehelai kain ulos, pakaian muslim untuk imam khatib.Tempat duduk raja yaitu amak lampisan. Makanan yang harus ada adalah ketan. Untuk manyurdu burangir harus disediakandaun sirih, soda, pinang, tembakau, nipah, dan sehelai kain untuk membungkusnya. Sebagai syarat maupa- upa harus disediakan nasi segenggam, garam sebutir, telur ayam satu, ayam seekor, akan sesayat, kaki udang sejepit, kain sehelai, dan daun- daun berwarna merah. Marhata- hata memiliki fungsi tersendiri bagi masyarakat Batak Mandailing di Kenagarian Taruang- taruang Kecamatan Rao Kabupaten Pasaman. Marhata- hata berfungsi sebagai syiar Islam, fungsi sosial, sebagai alat pendidikan, fungsi adat, dan sebagai hiburan bagi masyarakat. Marhata- hata juga memiliki kedudukan yang sangat penting karena memiliki falsafah yang tinggi dan nilai yang sangat berarti bagi masyarakat serta mengandung pesan- pesan yang bermanfaat bagi pendengar.

Item Type: Thesis (Bachelor/Skripsi)
Contributors:
Contribution
Contributors
Email
Thesis advisor
Junaidi, Junaidi
UNSPECIFIED
Thesis advisor
Sylvia, Ike
UNSPECIFIED
Corrector
Zafri, Zafri
UNSPECIFIED
Corrector
Susilawati, Nora
UNSPECIFIED
Corrector
Febriani, Eka Asih
UNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Pola Asuh Orang Tua Motivasi Belajar
Subjects: H Social Sciences > HM Sociology
L Education > LB Theory and practice of education
L Education > LC Special aspects of education
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial > Pendidikan Sosiologi-S1
Depositing User: Melinda Febrianti S.IP
Date Deposited: 29 Sep 2025 01:28
Last Modified: 30 Jul 2026 07:07
URI: https://repository.unp.ac.id/id/eprint/25833

Actions (login required)

View Item
View Item