%0 Thesis %9 Bachelor/Skripsi %A Basral, Naufal %A Universitas Negeri Padang, %B Geografi FIS UNP %D 2026 %F repounp:49496 %I Universitas Negeri Padang %T Prediksi Distribusi Konflik Manusia-Babi Hutan (Sus Scrofa Dometicus) dan Strategi Mitigasi Konflik di Nagari Tandikek Kecamatan Patamuan %U https://repository.unp.ac.id/id/eprint/49496/ %X Konflik manusia dan babi hutan menjadi masalah serius terhadap kerusakan lahan pertanian masyarakat di Nagari Tandikek. Berdasarkan observasi awal, ditemukan titik konflik babi hutan sebanyak 34 titik, babi hutan menyebabkan kerusakan pada berbagai komoditas pertanian di Nagari Tandikek, terutama padi, jagung, pepaya, pisang, dan ubi, yang mengakibatkan kerugian signifikan bagi petani, termasuk gagal panen pada lahan sawah yang telah memasuki masa panen. Wilayah Nagari Tandikek juga memiliki kawasan hutan lindung seluas ±49 Ha berdasarkan data geoportal Sumbar tahun 2025, yang berfungsi sebagai habitat alami babi hutan dan berpotensi memengaruhi pola pergerakan satwa menuju area pertanian di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan distribusi potensi konflik manusia dengan babi hutan serta mengidentifikasi strategi mitigasi berbasis kearifan lokal yang diterapkan oleh masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode berupa algoritma Maximum Entropy guna menganalisis dan memodelkan potensi konflik dengan babi hutan dengan sembilan variabel lingkungan, seperti tutupan lahan, jarak dari perkebunan, jarak dari hutan, jarak dari sungai, jarak dari jalan, jarak dari pemukiman, jarak dari sawah, kemiringan lereng dan ketinggian. Outputnya berupa informasi Area Under Curve (AUC), yang menampilkan kinerja variabel dan persentase kontribusi variabel. Hasil pemodelan maxent menunjukan variabel tutupan lahan variabel yang paling berpengaruh dengan nilai AUC (Area Under Curve sebesar 0,992). Nilai AUC mendekati angka 1, menandakan model memiliki tingkat akurasi sangat baik dalam memprediksi wilayah rawan konflik. Hasil dari MaxEnt daerah potensi kerawanan konflik babi hutan yang terjadi di Nagari Tandikek dengan luas wilayah tingkat potensi konflik babi hutan yang ada di Nagari Tandikek ini diperoleh dari hasil uji replikasi pemodelan MaxEnt sebanyak 50 kali pengulangan dibagi 2 sesi menunjukan luas area yang berpotensi konflik rendah sebesar 287,02 Ha , luas area yang berpotensi sedang sebesar 216,13 Ha , dan wilayah yang berpotensi tinggi sebesar 78,67 Ha . Strategi mitigasi berbasis kearifan lokal yang ditemukan meliputi buru babi ninik mamak, pelindung seng, lubang perangkap, juek-juek, rambut manusia, dan kapur barus.