@phdthesis{repounp48878, title = {Merencam dan Nuai: Pertanian Tradisional Padi Ladang Masyarakat Melayu Jambi :Studi Kasus Petani Desa Tanjung, Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun, Jambi:}, school = {Universitas Negeri Padang}, year = {2026}, author = {Husna, Zumrotul}, abstract = {Pertanian padi ladang merupakan sistem pertanian tradisional yang hingga kini masih dilakukan oleh masyarakat Melayu Jambi di Desa Tanjung, Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun, meskipun berada dalam tekanan alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis pola bertani padi ladang secara tradisional yang dilakukan masyarakat Melayu Jambi di Desa Tanjung, mulai dari tahapan pembukaan lahan (manuk), pembakaran lahan, penanam padi (nuai), pemeliharaan tanaman, panen (nuai), alat yang digunakan hingga kegiatan ritual pertanian seperti turun bamuo dan memasak bubur ayak yang dilakukan pada saat bertani padi ladang. Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumen pendukung, serta dianalisis dengan teori Robert Redfield yaitu masyarakat petani (peasant society and culture) untuk menjelaskan bahwa masyarakat pedesaan berada dalam suatu kontinum antara trigel society dan urban society yang berciri tradisional, homogen dan berbasis solidaritas sosial, dengan masyarakat yang lebih komplek. Dalam penelitian ini, masyarakat petani (peasant society) tidak sepenuhnya terisolasi seperti folk society, tetapi tetap mempertahankan nilai, norma, dan tradisi lokal yang diwariskan secara turun temurun sebagai bagian dari little tradition. Keberadaan sistem kepercayaan dalam ritual pertanian, mencerminkan keterhungan dengan great tradition. Dengan demikina, kegiatan pertanian tradisional padi ladang tidak hanya aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari sistem budaya mengintegrasikan tradisi lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peisan atau petani tradisional di Desa Tanjung mempertahan padi ladang melalui pemanfaatan lahan adat (tanah ramo) dan lahan tumpangsari padi ladang dengan kelapa sawit sebagai strategi adaptasi terhadap perubahan penggunaan lahan. Seluruh tahapan pertanian dilakukan secara bertahap menggunakan alat alat tradisional, mulai dari pembukaan lahan, penanam benih (merencam), hingga panen (nuai). Kegiatan pertanian padi ladang masih disertai ritual keagamaan seperti turun baumo dan makan bubur ayak yang diyakini membawa keselamatan, keberkahan, dan kelancaran dalam proses pertanian. Selain itu, sistem kerja yang dilakukan oleh petani padi ladang dilakukan dengan sistem kekeluargaan dan gotong royong, mulai dari pembukaan lahan, pelaksanaan ritual pertanian hingga panen padi ladang. Dengan demikian, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa masyarakat petani di Desa Tanjung berada dalam posisi sebagai peasant society yang mempertahankan ciri tradisional melalui gotong royong, kekeluargaan, dan praktiktradisional, sekaligus beradaptasi dengan perubahan alih fungsi lahan perkebunan kelapa sawit.}, url = {https://repository.unp.ac.id/id/eprint/48878/} }