%0 Thesis %9 Bachelor/Skripsi %A Santoso, Rahmat Puji %A FT UNP, %B Teknik Sipil FT UNP %D 2025 %F repounp:48612 %I Universitas Negeri Padang %T Pemetaan Tekanan Air Pelanggan Perumda Air Minum Tirta Saiyo Unit Layanan Lubuk Sikaping Menggunakan ArcGIS %U https://repository.unp.ac.id/id/eprint/48612/ %X Kinerja sistem penyediaan air minum (SPAM) seringkali terkendala oleh inefisiensi pada unit distribusi, ditandai dengan fluktuasi tekanan dan tingginya proporsi kehilangan air non-pendapatan (Non-Revenue Water/NRW). Di wilayah layanan Perumda Air Minum Tirta Saiyo Unit Lubuk Sikaping, ketidakstabilan tekanan ini secara signifikan memengaruhi kuantitas dan kontinuitas pasokan, khususnya di jam puncak, yang pada akhirnya mereduksi kualitas pelayanan publik. Penelitian ini dirancang untuk menginvestigasi dan menganalisis secara spasial kondisi tekanan air pada jaringan distribusi domestik di Kecamatan Lubuk Sikaping. Penelitian ini mengunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei lapangan dan analisis Sistem Informasi Geografis (SIG). Analisis data difokuskan pada pemetaan distribusi tekanan air dengan perangkat lunak ArcGIS untuk memvisualisasikan data geospasial, melakukan analisis spasial, dan mengaplikasikan teknik interpolasi Inverse Distance Weighting (IDW). Interpolasi ini esensial untuk memodelkan dan merepresentasikan variasi tekanan di seluruh area layanan secara kontinu berdasarkan data pengukuran diskrit. Pengukuran tekanan pada 104 titik jaringan distribusi menunjukkan fluktuasi yang terukur signifikan, berkisar antara 0,1 hingga 3,1 bar. Secara spasial, Rayon I dan II didominasi oleh tekanan rendah (0,1–0,3 bar), sedangkan Rayon III, IV, V, VI, dan VII umumnya berada pada rentang tekanan normal (1–3,1 bar). Analisis interpolasi IDW berbasis ArcGIS mengungkap bahwa zona bertekanan rendah berasosiasi dengan wilayah berelevasi tinggi, berjarak relatif jauh dari pipa induk, atau berada pada segmen hilir jaringan. Sebaliknya, tekanan yang lebih tinggi terdistribusi pada area berelevasi rendah atau pada koridor pipa primer. Secara keseluruhan, 48% titik pengukuran tidak memenuhi ambang batas minimum tekanan pelayanan, yaitu 1 bar, sehingga mengindikasikan adanya ketidakseimbangan hidraulis pada sistem distribusi.