%0 Thesis %9 Bachelor/Skripsi %A Firna, Bismi Rahma %A Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, %B BIOLOGI FMIPA UNP %D 2026 %F repounp:48141 %I Universitas Negeri padang %K ADAPTASI INSANG, HISTOMORFOLOGI, RASBORA JACOBSONI %T Karakteristik Histomorfologi Insang Ikan Wader (Rasbora Jacobsoni) pada 2 Tipe Habitat di Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat %U https://repository.unp.ac.id/id/eprint/48141/ %X Insang merupakan organ vital pada ikan yang berperan langsung dalam respirasi dan sangat sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan, sehingga berpotensi digunakan sebagai bioindikator kualitas perairan. Perbedaan kondisi habitat, khususnya yang dipengaruhi aktivitas antropogenik, dapat memicu respons adaptif pada struktur histomorfologi insang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan karakteristik histomorfologi insang ikan wader (Rasbora jacobsoni) pada dua tipe habitat berbeda, yaitu Sungai Perhutanan (SP) yang relatif alami dan Sungai Kebun Karet (SK) yang terpengaruh aktivitas perkebunan di Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan analisis komparatif. Sampel ikan diambil masing-masing sebanyak lima individu pada setiap habitat. Preparat histologi insang dibuat dengan metode parafin dan pewarnaan Hematoxylin Eosin (HE), kemudian diamati menggunakan mikroskop cahaya. Parameter pengamatan meliputi Panjang Lamella Primer (PLP), Panjang Lamella Sekunder (PLS), Jumlah Lamella Sekunder (JLS), Jumlah Sel Epitel (JSE), Jarak Antar Lamella (JAL), dan Diameter Sel Epitel (DSE). Analisis statistik dilakukan menggunakan uji t independen dengan aplikasi R- Studio untuk menguji perbedaan antar habitat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat variasi karakteristik histomorfologi insang antara kedua habitat. Panjang lamella primer menunjukkan perbedaan signifikan (p= 8,64 × 10⁻⁹) sedangkan panjang lamella sekunder menunjukkan perbedaan signifikan (p= 0,0099) dengan nilai lebih tinggi pada Sungai Kebun Karet (SK). Jumlah lamella sekunder berbeda sangat signifikan (p = 3,62 × 10⁻⁶), dengan jumlah lebih tinggi pada Sungai Perhutanan (SP). Sementara itu, jumlah sel epitel (p = 0,0634), jarak antar lamella (p = 0,0523), dan diameter sel epitel (p = 0,806) tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Data kualitas air menunjukkan bahwa Sungai Kebun Karet (SK) memiliki kadar Dissolved Oxygen (DO) lebih rendah (±1,11–1,67 mg/L) dan tingkat kekeruhan lebih tinggi dibandingkan Sungai Perhutanan (SP) (±4,22–5,26 mg/L), yang diduga menjadi faktor utama pemicu perubahan struktur insang.