<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3"><mods:titleInfo><mods:title>Analisis Dampak Faktor Makroekonomi terhadap Inflasi di Indonesia dengan Pendekatan Vector Error Correction Model</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Nining</mods:namePart><mods:namePart type="family">Anjelisni</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Inflasi di Indonesia mengalami fluktuasi selama Januari 2020- Maret 2025, dengan puncak 5,95% pada pertengahan 2022 dan penurunan mendekati nol pada awal 2025, yang artinya belum stabil sesuai dalam target Bank Indonesia yaitu 1,5-3,5%. Fluktuasi ini dipicu faktor makroekonomi seperti jumlah uang beredar (JUB), BI Rate, kurs rupiah, ekspor-impor yang saling berhubungan terhadap inflasi. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan hubungan jangka pendek dan jangka panjang faktor makroekonomi terhadap inflasi menggunakan Vektor Error Correction Model (VECM) serta meramalkan inflasi pada bulan April-Juni 2025. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah VECM. Penelitian ini merupakan penelitian terapan dengan menggunakan data Inflasi Dan faktor Makroekonomi dari Januari 2020- Maret 2025. Analisis dilakukan melalui uji stasioneritas ADF pada level dan first difference, penentuan lag optimal Final Prediction Error, uji stabilitas model dan kointegrasi Johansen, estimasi VECM, uji diagnostik Kolmogorov-Smirnov dan white noise , kausalitas Granger, serta peramalan tiga bulan ke depan menggunakan Mean Absolute Percentage Error (MAPE) . Model VECM(1) menghasilkan error correction term (ECT) negatif signifikan (-0,01764) yang menunjukkan inflasi secara bertahap kembali ke keseimbangan jangka panjang. Secara jangka panjang, JUB mendorong inflasi naik sesuai teori kuantitas uang, BI Rate berhasil menekan inflasi melalui kebijakan moneter kontraktif, depresiasi rupiah memicu inflasi impor, peningkatan ekspor justru meredam inflasi domestik, sementara impor besar mempercepat kenaikan harga. Peramalan inflasi April-Juni 2025 menghasilkan 1,92%, 2,83%, dan 3,72% dengan akurasi MAPE 9,23% .</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">HA Statistics</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2026-01</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas Negeri Padang;Statistika FMIPA UNP</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>