%0 Thesis %9 Diploma/Tugas Akhir %A Syahila, Alya %A Fmipa, %B Statistika FMIPA UNP %D 2026 %F repounp:47971 %I Universitas Negeri Padang %K ANALISIS BIPLOT, TINGKAT KEMISKINAN, PEMETAAN PROVINSI. %T Pemetaan Provinsi dengan Tingkat Kemiskinan Tertinggi dan Terendah Menggunakan Analisis Biplot %U https://repository.unp.ac.id/id/eprint/47971/ %X Kemiskinan merupakan permasalahan pembangunan yang masih menjadi tantangan utama di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa yang menunjukkan adanya perbedaan tingkat kemiskinan antar provinsi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki tingkat kemiskinan tertinggi di Pulau Jawa sebesar 10,40%, sedangkan Provinsi DKI Jakarta mencatat tingkat kemiskinan terendah sebesar 4,14%. Kesenjangan ini menunjukkan adanya perbedaan karakteristik ekonomi dan kualitas sumber daya manusia antarwilayah yang perlu dianalisis lebih mendalam. Permasalahan penelitian ini berfokus pada bagaimana memetakan karakteristik wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi dan terendah di Pulau Jawa serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode analisis biplot dengan data sekunder tahun 2024 yang bersumber dari BPS. Variabel yang dianalisis meliputi persentase kemiskinan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita, angka melek huruf, rata-rata pendapatan bersih, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Hasil analisis menunjukkan bahwa Kabupaten Kulon Progo dan Gunung Kidul merupakan wilayah dengan karakteristik kemiskinan tertinggi di DIY. Sementara itu, wilayah di DKI Jakarta umumnya dicirikan oleh nilai PDRB per kapita, IPM, dan tingkat melek huruf yang tinggi, meskipun terdapat pengecualian pada Kepulauan Seribu yang memiliki tingkat kemiskinan relatif lebih tinggi dibanding wilayah lainnya. Nilai kelayakan biplot sebesar 99% (DIY) dan 97% (DKI Jakarta) menunjukkan bahwa representasi dua dimensi layak digunakan. Dengan demikian, perbedaan karakteristik ekonomi dan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor utama pembeda tingkat kemiskinan antar wilayah.