<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3"><mods:titleInfo><mods:title>Stigmatisasi terhadap Generasi Z di Tempat Kerja (Studi Kasus: Generasi Z yang Bekerja di PT. Delapan Belas Sejahtera)</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Khairani</mods:namePart><mods:namePart type="family">Rizky</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stigmatisasi yang dialami oleh Generasi Z di tempat kerja, khususnya pada karyawan yang bekerja di PT. Delapan Belas Sejahtera. Stigmatisasi merupakan proses pemberian label atau cap kepada individu atau kelompok tertentu karena adanya perbedaan perilaku, nilai, atau cara pandang. Fenomena stigma terhadap Generasi Z muncul akibat perbedaan nilai, gaya kerja, dan pola komunikasi antar Generasi dalam satu lingkungan kerja. Generasi Z kerap dilabeli sebagai generasi yang tidak loyal, kurang etos kerja, dan memiliki mental yang lemah. Pelabelan tersebut merupakan bentuk konstruksi sosial yang berdampak pada motivasi serta kepercayaan diri Generasi Z di lingkungan kerja. Penelitian ini menggunakan teori Labelling yang dikemukakan oleh Edwin M. Lemert, yang menjelaskan bahwa penyimpangan sosial tidak hanya muncul dari perilaku individu, namun juga dapat muncul dari reaksi sosial akibat pelabelan yang diberikan masyarakat. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif dengan teknik pemilihan informan secara purposive sampling sebanyak sepuluh orang. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian dianalisis menggunakan model analisis Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stigmatisasi terhadap Generasi Z terbentuk melalui dua tahapan, yaitu” tahapan awal (primary deviance) ialah ketika seseorang melakukan perilaku menyimpang yang masih dianggap wajar. Ketika penyimpangan tersebut diberi label terus menerus, maka terbentuklah penyimpangan kedua (secondary deviance). Adapun bentuk stigma yang ditemukan ialah: (1) Stigma terhadap loyalitas kerja, (2) Stigma terhadap etos kerja, (3) Stigma terhadap ketahanan mental</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">HM Sociology</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2025</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas Negeri Padang;Sosiologi FIS UNP</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>