<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3"><mods:titleInfo><mods:title>Analisis Hasil Pengukuran Alat Uji Konduktivitas Termal pada Temperatur Kerja 250°C</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Fretina</mods:namePart><mods:namePart type="family">Sari</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh temperatur kerja terhadap akurasi hasil pengukuran alat uji konduktivitas termal yang dirancang berdasarkan metode Comparative Cut-Bar sesuai standar ASTM E 1225. Analisis dilakukan melalui pendekatan numerik menggunakan perangkat lunak ANSYS R2 2025 dan pengujian eksperimen langsung pada temperatur kerja 250°C . ookus utama penelitian adalah pengaruh beban termal dan gaya mekanis akibat tekanan penjepit terhadap deformasi, tegangan, serta akurasi hasil pengukuran alat. Simulasi steady-state thermal dan static structural dilakukan untuk memperoleh distribusi temperatur, deformasi total, regangan termal, serta tegangan equivalent pada komponen alat, khususnya pada spesimen logam kuningan dan AISI 1010. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kenaikan temperatur menyebabkan deformasi total sebesar 0,0051784 mm untuk kuningan dan 0,003785 mm untuk AISI 1010, namun nilai deformasi maksimum masih berada pada batas aman struktur. Sedangkan tegangan equivalent pada heat source sebesar 309,69 MPa dengan safety factor 0,98, menandakan potensi deformasi plastis lokal. Uji konvergensi mesh memperlihatkan stabilitas hasil dengan selisih di bawah 2% pada ukuran 3 mm. Hasil pengujian eksperimental menunjukkan nilai konduktivitas termal spesimen kuningan dan AISI 1010, masing-masing sebesar 102,4 W/m.K dan 75,4 W/m.K mendekati nilai referensi dengan error relatif di bawah 20% dan standar deviasi 16,24 dan 33,9, menandakan stabilitas sistem masih perlu ditingkatkan agar hasil pengukuran lebih konsisten antar pengujian. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa temperatur kerja berpengaruh signifikan terhadap karakteristik mekanis dan termal komponen alat uji, namun desain yang digunakan masih dapat mempertahankan keakuratan pengukuran.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">TJ Mechanical engineering and machinery</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2025-11</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas Negeri Padang;Teknik Mesin FT UNP</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>