@phdthesis{repounp47412, title = {Peran Stakeholders dalam Memberdayakan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) "Padusi Etnobotani" di Kampung Batu Busuk Kecamatan Pauh Kota Padang}, school = {Universitas Negeri Padang}, year = {2025}, author = {Hazizah, Nur}, abstract = {Indonesia memiliki potensi sumber daya hutan yang besar, termasuk hasil hutan bukan kayu yang bernilai ekonomi dan ekologis. Pemanfaatan potensi tersebut diwujudkan melalui program perhutanan sosial yang menekankan partisipasi masyarakat secara berkelanjutan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran stakeholders dalam pemberdayaan masyarakat melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) "Padusi Etnobotani" di Kampung Batu Busuk, Kota Padang. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran stakeholders dalam memberdayakan KUPS "Padusi Etnobotani" serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teori peran Ife dan Tesoriero (2016) yang meliputi empat indikator yaitu asilitatif, edukasional, representatif, dan teknis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, dengan informan yang dipilih secara purposive sampling dari Dinas Kehutanan, Dispora Kota Padang, Pemerintah Kelurahan Lambung Bukit, WRI Indonesia, dan anggota KUPS "Padusi Etnobotani." Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman yang mencakup reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan.kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para stakeholders berperan dalam empat aspek utama, yaitu fasilitatif, edukasional, representatif, dan teknis. Dinas Kehutanan berperan sebagai policy creator dan koordinator dalam pembentukan serta penyuluhan kelompok, namun menghadapi kendala partisipasi masyarakat. Dispora Kota Padang berperan sebagai akselerator dalam pengembangan kapasitas pemuda, tetapi belum optimal dalam pelatihan dan promosi produk. Pemerintah Kelurahan Lambung Bukit berperan sebagai implementer dan koordinator lokal, namun keterlibatannya masih rendah dalam pembinaan administrasi. Sementara itu, WRI berperan aktif sebagai fasilitator dalam pelatihan, pengembangan produk herbal, dan legalisasi kelompok, meskipun terkendala dalam pemasaran produk ke jaringan distribusi yang lebih luas. Faktor pendukung pemberdayaan mencakup potensi sumber daya alam, motivasi masyarakat, serta dukungan kelembagaan; sedangkan faktor penghambatnya meliputi keterbatasan anggaran, kurangnya pelatihan lanjutan, dan minimnya akses pasar. Secara keseluruhan, keberhasilan pemberdayaan KUPS "Padusi Etnobotani" sangat bergantung pada sinergi dan kolaborasi antar stakeholders dalam memperkuat kapasitas masyarakat serta mengembangkan ekonomi lokal secara berkelanjutan}, url = {https://repository.unp.ac.id/id/eprint/47412/} }