%L repounp45900 %X Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna simbol dalam tradisi makan bajamba pada upacara perkawinan masyarakat Kurai di Kota Bukittinggi. Tradisi makan bajamba tidak hanya dipahami sebagai kegiatan makan bersama, tetapi merupakan praktik budaya yang mengandung nilai kebersamaan, kesopanan,keharmonisan, dan keseimbangan sosial yang dijunjung oleh masyarakat. Penelitian ini menggunakan teori interpretatif Clifford Geertz, yang memandang kebudayaan sebagai sistem makna yang dipahami melalui proses penafsiran terhadap simbol dan tindakan sosial. Melalui pendekatan ini, setiap unsur dalam makan bajamba meliputi hidangan,tata cara makan, dan aturan duduk ditafsirkan sebagai simbol yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat Kurai. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi.Informan dipilih secara purposive, terdiri atas tokoh adat, bundo kanduang, keluarga mempelai, dan masyarakat yang memahami pelaksanaan makan bajamba. Analisis data dilakukan berdasarkan model Miles dan Huberman melalui tahapan pengumpulan data,reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi makan bajamba memiliki makna simbol yang ditampilkan melalui tiga aspek utama. Pertama, makna hidangan tercermin dari rendang, asam padeh dagiang, pangek ikan, ayam gulai nenas, kerupuk maco, dan sayur lobak putih yang masing-masing mengandung nilai dan pesan budaya tertentu. Kedua, tata cara makan menunjukkan nilai kesopanan, kebersamaan, penghormatan,dan gotong royong melalui urutan makan, cara mengambil makanan, serta etika duduk selama jamuan. Ketiga, aturan duduk menggambarkan struktur adat dan hubungan kekerabatan melalui penempatan ninik mamak, mamak rumah, anak kemenakan, serta tamu kehormatan sesuai posisi yang telah ditentukan. %A Rahmadhani Aulia %I Universitas Negeri Padang %D 2025 %T Makna Simbol Makan bajamba dalam Upacara Perkawinan (Studi Kasus Masyarakat Kurai Kota Bukittinggi)