<mods:mods xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" version="3.3" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Mitra Sekolah dalam Menanggulangi Perilaku Menyimpang Siswa di SMPN 3 Lubuk Alung</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Silvia Permata</mods:namePart><mods:namePart type="family">Sari</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Perilaku menyimpang yang dilakukan siswa saat ini telah menjadi &#13;
perhatian bagi masyarakat karena telah meresahkan kehidupan bermasyarakat. Dalam hal ini diperlukan kemitraan antara pihak sekolah dan masyarakat dalam menanggulangi perilaku menyimpang siswa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan  1) bentuk-bentuk kemitran sekolah dalam menanggulangi perilaku menyimpang siswa di SMPN 3 Lubuk Alung, dan 2) kendala-kendala yang dihadapi dalam menanggulangi perilaku menyimpang siswa di SMPN 3 Lubuk Alung baik itu internal maupun eksternal. Metodologi yang digunakan deskriptif kualitatif. Subyek penelitian pihak sekolah dan mitra-mitra sekolah yang terpilih sebagai sampel dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Lokasi penelitian yaitu di Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.  Hasil penelitian menunjukkan bentuk-bentuk kemitraan sekolah yakni bentuk kemitraan formal dan informal. Kemitraan formal adalah kemitraan yang mengikat yang dituangkan dalam naskah kerjasama. Sedangkan bentuk kemitraan informal adalah bentuk kemitraan yang berdasarkan kesepakatan yang tidak dituangkan dalam naskah kerjasama. Kendala yang dihadapi kemitraan sekolah, diantaranya faktor internal kurangnya kurangnya kesadaran siswa, kurangnya keteladanan guru, serta pembinaan yang hanya diberikan oleh Guru Bimbingan Konseling. Sementara untuk faktor eksternal yaitu rendahnya partisipasi orang tua siswa, rendahnya perekonomian keluarga, serta faktor geografis sekolah dan transportasi. Adapun saran yang diberikan agar sekolah memiliki program khusus dalam menanggulangi perilaku menyimpang sisw ayang melibatkan seluruh warga sekolah/stakeholders, dinas pendidikan, dan masyarakat.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">LB1603 Secondary Education. High schools</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2019</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas Negeri Padang;Ilmu Sosial Politik FIS UNP</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>