<mods:mods xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" version="3.3" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Kajian Proses Penanggulangan Air Buangan dari Sump Pit Selatan PT. Madhani Talatah Nusantara Site West Pit Kecamatan Sungai Pinang Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Antonda</mods:namePart><mods:namePart type="family">Antonda</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>PT. Madhani Talatah Nusantara merupakan salah satu perusahaan yang&#13;
bergerak di bidang jasa pertambangan yang melakukan penambangan batubara&#13;
dengan metode open pit mining yang berada di daerah Kecamatan Sungai Pinang&#13;
Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Sebagai perusahaan&#13;
pertambangan batubara, perusahaan ini tentu tidak lepas dari limbah dan salah&#13;
satunya adalah limbah air buangan dari sump Pit Selatan. Oleh karena itu harus&#13;
dilakukan upaya penangannya agar tidak mencemari lingkungan.&#13;
Cara pengelolaan air buangan diantaranya dengan pembuatan kolam&#13;
pengendap lumpur (settling pond) sebagai tempat penampungan air buangan.&#13;
Selanjutnya dilakukan treatment atau pengolahan dengan penambahan bahan&#13;
kimia (kapur tohor) pada air buangan di settling pond dengan dosis yang tepat&#13;
(aktive treatment). Selain menggunakan bahan kimia, penanganan juga dilakukan&#13;
dengan passive treatment yaitu dengan memenfaatkan tumbuh-tumbuhan.&#13;
Tanaman yang digunakan untuk proses passive treatment adalah tanaman typha&#13;
tifolia. Tanaman typha tifolia termasuk jenis tanaman mencuat di permukaan air&#13;
dan akarnya tenggelam sehingga memiliki kemampuan lebih tinggi dalam&#13;
mengakumulasi logam berat seperti mangan (Mn). Penanganan secara aktif&#13;
dilakukan dengan pemberian kapur secara berkala. Dari hasil perhitungan dosis&#13;
pengapuran di laboratorium, dengan cara mengalikan debit dengan dosis kapur,&#13;
maka didapat dosis pengapuran yaitu sekitar 3,4 karung hingga 22,6 karung dalam&#13;
waktu satu bulan. Untuk kebutuhan kapur perjamnya adalah kebutuhan kapur (kg)&#13;
dibagi dengan jam kerja pompa dalam satu hari adalah sekitar 56,7 kg/jamnya.&#13;
Sementara itu, terjadi pendangkalan settling pond yang membuat settling&#13;
pond tersebut tidak mampu menampung debit air buangan secara maksimal. Oleh&#13;
karena itu harus direncanakan kembali kala ulang pengerukannya. Kala ulang&#13;
kompartemen 1 adalah 4,74 hari, kompartement 2 adalah 37,71hari,&#13;
kompartement 3 yaitu 140,16 hari, kompartement 4 yaitu 10.895,87 hari,&#13;
kompartement 5 yaitu 85.930,01 hari, kompartement 6 yaitu 10.800.807 hari,&#13;
kompartement 7 yaitu 2,69 x 108 hari. Seluruh kegiatan penanganan air buangan&#13;
tersebut harus dilakukan dengan tepat untuk memastikan air buangan layak&#13;
dialirkan ke sungai. Dalam hal ini mencakup dosis pengapuran, kala ulang&#13;
pengerukan settling pond, dan mengevaluasi daya tampung settling pond, apakah&#13;
dengan debit air yang masuk pada saat ini, settling pond mampu menampung atau&#13;
tidak.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">TN Mining engineering. Metallurgy</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2016-02</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas Negeri Padang;Teknik Pertambangan FT UNP</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>