<mods:mods xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" version="3.3" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Generasi Z Dalam Seni Lukis Kontemporer</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Ari</mods:namePart><mods:namePart type="family">Nopri</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Di era modern ini, pertumbuhan tempat nongkrong atau kafe semakin menjamur&#13;
dan berkembang dimana-mana, salah satunya di kota Bukittinggi. Seiring dengan&#13;
perkembangan inovasi, kafe juga mengalami banyak perubahan, mulai dari&#13;
fasilitas, desain dan konsep seperti konsep live music, hingga penyediaan&#13;
makanan, modernitas, dan minuman sehingga nilai kafe lebih tinggi dan lebih&#13;
tinggi. eksklusif. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian konsumen yang&#13;
datang khususnya kaum milenial sebagai tempat mereka bersenang-senang, hang&#13;
out dan menghabiskan waktu luang. Kegiatan tersebut merupakan kebiasaan&#13;
generasi Z yang dilakukan untuk kepuasan sehingga berdampak pada gaya&#13;
hidupnya yang konsumtif. Sifat Z cenderung impulsif dan peka terhadap inovasi&#13;
baru yang mendukung gaya hidup konsumtif. Jadi berkunjung ke kafe bukan&#13;
karena kebutuhan tapi keinginan. Hal ini menunjukkan bahwa kunjungan ke kafe&#13;
tidak lagi didasarkan pada nilai guna tetapi pada nilai rambu-rambu yang ada di&#13;
kafe tersebut sehingga aktivitas konsumsi dan fungsi kafe mengalami pergeseran.&#13;
Penelitian ini menggunakan teori konsumsi Jean Baurdillard dengan metode&#13;
kualitatif dan pendekatan studi kasus. Informan dalam penelitian ini adalah&#13;
pengunjung kafe Foresthree dengan rentang usia 20 hingga 50 tahun. Teknik&#13;
pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi dan studi literatur.&#13;
Hasil kajian penelitian menunjukkan bahwa generasi Z yang berada di kafe&#13;
Foresthree dapat menghabiskan waktunya di kafe tersebut berjam-jam hingga&#13;
larut malam dan menghabiskan uang untuk nongkrong di kafe Foresthree seperti&#13;
mengonsumsi makanan dan minuman modern. Nilai eksklusif juga berdampak&#13;
pada fashion yang mereka kenakan saat berkunjung, seperti baju, tas, dan jam&#13;
tangan dengan merk mahal. Dapat disimpulkan bahwa Foresthree digunakan&#13;
sebagai sarana representasi untuk menciptakan status sosial melalui nilai-nilai&#13;
yang terkandung dalam kafe tersebut. Melalui hal tersebut, para milenial kerap&#13;
mengekspos kehadirannya di media sosial saat berkunjung dan juga&#13;
menjadikannya konsumsi publik. Dalam pengertian lain, dapat dikatakan bahwa&#13;
kegiatan konsumsi tidak lagi didasarkan pada nilai guna tetapi pada nilai tanda&#13;
dan realitas semu dan maya yang dianggap lebih nyata.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">N Visual arts (General) For photography, see TR</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2023-02</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas Negeri Padang;Pendidikan Seni Rupa FBS UNP</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>