%0 Thesis %9 Bachelor/Skripsi %A Syafriwanto Z.R, Syafriwanto Z.R %A Fakultas Bahasa dan Sastra, %B DESAIN KOMUNIKASI VISUAL FBS UNP %D 2015 %F repounp:40909 %I Universitas Negeri padang %K FILM DOKUMENTER %T Film Dokumenter "Pembuatan Baro tampuruang" di Kenagarian Guguak, Kecamatan Guguak, Kabupaten 50 Kota, Sumatra Barat %U https://repository.unp.ac.id/id/eprint/40909/ %X Baro tampuruang merupakan hasil olahan tempurung kelapa melalui proses pembakaran menjadi arang atau briket. Dahulu ada puluhan keluarga yang melakukan pekerjaan ini. Namun sekarang sudah jarang ditemui karena berbagai alasan. Salah satunya yaitu susahnya mencari bahan baku. Saat ini masih ada dua sampai lima keluarga yang bertahan menjalani pekerjaan tersebut, namun mereka harus mencari bahan baku di tempat yang jauh bahkan sampai puluhan kilometer. Bahan baku yang terkumpul baru bisa dibakar jika jumlahnya dirasa sudah mencukupi untuk satu lobang pembakaran. Kadangkala mereka harus mengundur pembakaran hingga dua sampai lima hari. Proses pembuatan yang sulit dan lama juga dilakukan secara tradisional serta dan tidak sesuainya upah atau hasil yang diperoleh dengan pekerjaan yang dilakukan menggerakkan hati penulis untuk membuat film dokumenter kegiatan tersebut. Film dokumenter adalah rekaman aktualitas sebuah kejadian yang sebenarnya berlangsung spontan tanpa adanya perantara. Dalam pembuatan film dokumenter penulis mengambil analisa data berupa 5W+1H karena analisa data berupa 5W+1H lebih cocok untuk data yang bersifat sosial dan ilmiah. Dalam pembuatan sebuah film dibagi menjadi tiga tahap yaitu tahap pra produksi, produksi, dan pasca produksi yang berceritakan tentang tata cara pembuatan tempurung dari sudut pandang penulis. Proses pembuatan baro tampuruang bukanlah sesuatu hal yang mudah. Proses pembuatannya sangat lama dan memakan energi yang besar dalam pengolahannya. Dalam proses pembuatan baro tampuruang kita akan dapat melihat bahwa pekerjaan tersebut tidak bisa dianggap sesuatu yang mudah. Juga diketahui bahwa pembuatan baro tampuruang ini yang dahulunya merupakan pekerjaan massal sampai lebih dari 20 kepala keluarga sekarang yang bertahan hanya 3 kepala keluarga saja.