<mods:mods xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" version="3.3" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Faktor-faktor yang Mencirikan Tingkat Kesejahteraan&#13;
Masyarakat di Sumatera Barat Menggunakan Analisis&#13;
Biplo</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Mutia</mods:namePart><mods:namePart type="family">Rahmi</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Pembangunan nasional pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan&#13;
kesejahteraan dalam arti yang seluas-luasnya. Masalah kesejahteraan yang terjadi&#13;
di Sumatera Barat merupakan akibat dari belum meratanya hasil pembangunan&#13;
yang dirasakan oleh masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan informasi tentang&#13;
kesejahteraan masyarakat dan faktor yang mencirikan tingkat kesejahteraan&#13;
masyarakatnya sehingga dapat diketahui dengan baik tindakan, sarana dan&#13;
prasarana apa yang akan ditingkatkan pada daerah tersebut. Salah satu metode&#13;
analisis statistik yang dapat digunakan adalah analisis biplot. Data yang&#13;
digunakan adalah data BPS tahun 2012.&#13;
Analisis biplot memberikan gambaran tentang keragaman variabel yang&#13;
cukup besar pada 19 kabupaten/kota yang ada di Sumatera Barat, artinya&#13;
kesejahteraan yang dirasakan masyarakat masih belum merata. Keragaman pada&#13;
variabel rata-rata lama sekolah, keluhan kesehatan dan rata-rata jumlah anak lebih&#13;
besar dibandingkan variabel lainnya, artinya nilai pada variabel-variabel tersebut&#13;
cukup jauh berbeda di setiap kabupaten/kota. Korelasi positif ditunjukkan oleh&#13;
variabel pendidikan dengan pengeluaran perkapita, ini berarti tingginya tingkat&#13;
pendidikan masyarakat di suatu kabupaten/kota diiringi dengan tingginya&#13;
pengeluaran perkapita masyarakat pada kabupaten/kota tersebut. Sebaliknya,&#13;
variabel pendidikan berkorelasi negatif dengan rata-rata jumlah anak, dimana&#13;
tingginya tingkat pendidikan masyarakat di suatu kabupaten/kota tidak diiringi&#13;
dengan tingginya rata-rata jumlah anak pada kabupaten/kota tersebut.&#13;
Selain itu, analisis biplot juga memberikan gambaran tentang faktor-faktor&#13;
yang mencirikan tingkat kesejahteraan masyarakat di Sumatera Barat berdasarkan&#13;
indikator kesejahteraan masyarakatnya. Pada Kab. Pesisir Selatan, Kab. Pasaman,&#13;
Kab. Solok Selatan dan Kab. Pasaman Barat dicirikan oleh tingkat kesehatan&#13;
masyarakat yang rendah. Pada Kepulauan Mentawai, Kab. Padang Pariaman dan&#13;
Kab. Lima Puluh Kota dicirikan oleh rata-rata jumlah anak yang tinggi dan&#13;
sebagian besar masyarakatnya sudah memiliki bangunan tempat tinggal milik&#13;
sendiri. Pada Kota Padang Panjang, Kota Bukittinggi dan Kota Pariaman dicirikan&#13;
oleh pengeluaran penduduk yang tinggi dan fasilitas perumahan masyarakat yang&#13;
jauh lebih baik dibanding daerah lainnya. Pada Kota Padang, Kota Solok dan Kota&#13;
Payakumbuh dicirikan oleh tingkat pendidikan masyarakat yang tinggi.&#13;
Sedangkan kabupaten/kota lainnya tidak memiliki posisi relatif yang dekat dengan&#13;
semua vektor variabel sehingga tidak memiliki karakteristik yang menonjol.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">QA Mathematics</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2014-04</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas Negeri Padang;Matematika FMIPA UNP</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>