@phdthesis{repounp40475, month = {April}, year = {2014}, title = {Faktor-faktor yang Mencirikan Tingkat Kesejahteraan Masyarakat di Sumatera Barat Menggunakan Analisis Biplo}, school = {Universitas Negeri Padang}, url = {https://repository.unp.ac.id/id/eprint/40475/}, abstract = {Pembangunan nasional pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dalam arti yang seluas-luasnya. Masalah kesejahteraan yang terjadi di Sumatera Barat merupakan akibat dari belum meratanya hasil pembangunan yang dirasakan oleh masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan informasi tentang kesejahteraan masyarakat dan faktor yang mencirikan tingkat kesejahteraan masyarakatnya sehingga dapat diketahui dengan baik tindakan, sarana dan prasarana apa yang akan ditingkatkan pada daerah tersebut. Salah satu metode analisis statistik yang dapat digunakan adalah analisis biplot. Data yang digunakan adalah data BPS tahun 2012. Analisis biplot memberikan gambaran tentang keragaman variabel yang cukup besar pada 19 kabupaten/kota yang ada di Sumatera Barat, artinya kesejahteraan yang dirasakan masyarakat masih belum merata. Keragaman pada variabel rata-rata lama sekolah, keluhan kesehatan dan rata-rata jumlah anak lebih besar dibandingkan variabel lainnya, artinya nilai pada variabel-variabel tersebut cukup jauh berbeda di setiap kabupaten/kota. Korelasi positif ditunjukkan oleh variabel pendidikan dengan pengeluaran perkapita, ini berarti tingginya tingkat pendidikan masyarakat di suatu kabupaten/kota diiringi dengan tingginya pengeluaran perkapita masyarakat pada kabupaten/kota tersebut. Sebaliknya, variabel pendidikan berkorelasi negatif dengan rata-rata jumlah anak, dimana tingginya tingkat pendidikan masyarakat di suatu kabupaten/kota tidak diiringi dengan tingginya rata-rata jumlah anak pada kabupaten/kota tersebut. Selain itu, analisis biplot juga memberikan gambaran tentang faktor-faktor yang mencirikan tingkat kesejahteraan masyarakat di Sumatera Barat berdasarkan indikator kesejahteraan masyarakatnya. Pada Kab. Pesisir Selatan, Kab. Pasaman, Kab. Solok Selatan dan Kab. Pasaman Barat dicirikan oleh tingkat kesehatan masyarakat yang rendah. Pada Kepulauan Mentawai, Kab. Padang Pariaman dan Kab. Lima Puluh Kota dicirikan oleh rata-rata jumlah anak yang tinggi dan sebagian besar masyarakatnya sudah memiliki bangunan tempat tinggal milik sendiri. Pada Kota Padang Panjang, Kota Bukittinggi dan Kota Pariaman dicirikan oleh pengeluaran penduduk yang tinggi dan fasilitas perumahan masyarakat yang jauh lebih baik dibanding daerah lainnya. Pada Kota Padang, Kota Solok dan Kota Payakumbuh dicirikan oleh tingkat pendidikan masyarakat yang tinggi. Sedangkan kabupaten/kota lainnya tidak memiliki posisi relatif yang dekat dengan semua vektor variabel sehingga tidak memiliki karakteristik yang menonjol.}, author = {Rahmi, Mutia} }