%A Fitria Mailisda %X Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) majas yang terdapat dalam kumpulan sajak Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail, (2) fungsi majas-majas itu dalam mendukung tema sajak pada Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, dan (3) gaya kepenyairan Taufiq Ismail dalam kumpulan sajak Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu penelitian dengan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menemukan dan menguji kebenaran berdasarkan fakta dan data. Metode deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan atau menjelaskan suatu hal, peristiwa yang seperti adanya. Untuk menganalisis data dalam kumpulan sajak Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail, dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) memilih dan menentukan sajak-sajak yang akan dianalisis, (2) mengidentifikasikan ragam majas yang terdapat pada beberapa sajak dalam kumpulan sajak Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail yang telah dipilih, (3) mengklasifikasikan majas yang telah diidentifikasi berdasarkan teori yang digunakan, (4) mengidentifikasikan gaya kepenyairan Taufik Ismail dalam karyanya kumpulan sajak Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, (5) menginterprestasikan data, (6) menarik kesimpulan dan merumuskan saran. Berdasarkan hasil pendeskripsian data, dapat disimpulkan bahwa dalam kumpulan sajak Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail ditemukan 28 ragam majas dalam 211 kutipan sajak. Majas ini terdiri atas dua kelompok besar, yaitu majas perbandingan dan majas nonperbandingan. Majas perbandingan meliputi majas alegori, antisipasi, metafora, personifikasi, dan simile. Majas nonperbandingan juga dibedakan lagi menjadi majas pertentangan, pertautan, dan perulangan. Majas Pertentangan meliputi majas ironi, sarkasme, litotes, satire, sinisme, hiperbola, oksimoron, paradoks, inversi dan inuendo. Majas pertautan meliputi majas antonomasia, metonimia, alusi, sinekdoke (pars pro toto dan totem pro parte), asindeton, dan erotesis. Majas perulangan meliputi majas anafora, epistrofa, asonansi, anadiplosis, aliterasi, dan kiasmus.Taufiq Ismail cenderung menggunakan gaya pribadi dalam menghasilkan sebuah sajak. Maksudnya, penikmat sastra dapat membedakan antara sajak Taufiq Ismail dengan penyair lainnya. Hal ini dapat dilihat dari gayanya seperti bercerita (naratif) untuk meluapkan gelora perasaannya ke dalam sebuah sajak, sajaknya berfungsi sabagai penyaluran aspirasi rakyat Indonesia terhadap kebijakan Orde Baru, berisikan kritik terhadap negeri yang carut-marut, mengungkap kesaksian sejarah, dan cenderung bergaya alegori, ironi, dan satire. %D 2012 %T Majas dalam Kumpulan Sajak Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia Karya Taufiq Ismail %L repounp39162 %I Universitas Negeri Padang